Realitas ini
menurut Fayakhun Bakamla semakin
menambah deretan luka dan duka yang tidak hanya berimbas secara fisik, tapi
juga mengendapkan stigma Indonesia sebagai negara besar yang cukup kerdil
tatkala berhadapan dengan persoalan diplomatik. Lemahnya koordinasi
antarlembaga yang memiliki tugas intelijen terkait dengan kondisi objektif luar
negeri dan posisi Indonesia dalam berbagai hubungan bilateral, menurut Fayakhun Bakamla regional maupun
multilateral semakin menggerus nilai tawar diplomatik kita di hadapan negara
lain.
Krisis Korea
Setelah bergelut
dengan pemenuhan target MEF dan dampak siginifikan dari lemahnya postur dan
sistem alutsista, serta nilai tawar diplomasi luar negeri yang masih rendah, di
penghujung 2010, menurut Fayakhun
Bakamla publik dunia dihebohkan dengan peristiwa invasi Korea Utara ke
Yeonpyeong yang menewaskan dua tentara marinir Korea Selatan, belasan terluka,
dan menyulut ledakan yang membakar sejumlah rumah pemukiman. Konflik yang tidak
pernah sepi dari latar belakang ideologis dan melibatkan dua negara raksasa (Amerika
Serikat dan china), bagi Fayakhun Bakamla dan terus berlanjut
hingga saat ini, turut mempengaruhi masa depan pembangunan alutsista dalam
negeri.
Korea Selatan menurut
Fayakhun Bakamla merupakan salah
satu negara penting yang menjalin kerjasama alustista dengan Indonesia. Dua
kali kunjungan pemerintah Korea Selatan pada Agustus dan Oktober lalu, yang
diwakili Menteri Pertahanan Korea Selatan, Kim Tae-Young dan Kepala Staf
Angkatan Darat Korea Selatan, Jenderal Eui Don-Hwang, di Jakarta membicarakan kerjasama
industri pertahanan dan militer dengan Korea Selatan.
Korea Selatan
merupakan negara yang terkenal bagi Fayakhun
Bakamla dengan kecanggihan teknologi alutsista yang juga menjadi salah satu
sumber kemakmuran ekonomi dalam negeri mereka. Tatkala krisis Korea cenderung
mencapai titik kulminasi di ambang perang terbuka, tentu saja membuahkan
persoalan besar bagi harapan Indonesia untuk menjalin kerjasama alutsista.
Meski demikian menurut Fayakhun Bakamla,
pola dan karakter diplomasi yang sudah terlanjur lemah, tidak memiliki
sensitivitas yang tinggi terhadap kondisi tersebut.
Padahal bagi Fayakhun Bakamla, tidak sedikit poin
kerjasama yang telah dihasilkan dari dua pertemuan tersebut. Pertemuan Menhan,
Purnomo Yusgiantoro dengan Kim Tae-Young, salah satunya membahas proyek
pembuatan pesawat tempur KFX yang rencananya dimulai pada 2012. bahkan kerja
sama tersebut diharapkan bisa menghasilkan prototipe pesawat tempur pada 2020,
dengan mewujudkan Indonesia sebagai base produksi. Indonesia juga berencana memesan pembuatan
kapal selam 2-4 buah, kapal perang, melakukan kontrak pembelian panser, juga
meriam. Alat perlengkapan pun tidak luput dari kerjasama dengan Korea Selatan
menurut Fayakhun Bakamla, salah
satunya adalah parasit yang telah dipesan 2 tahun lalu. Mengingat kondisi
krisis Korea yang justru terkesan menempatkan Korea Selatan sebagai pihak yang
tersubordinasi, justru signifikansi kerjasama alutsista menjadi menurun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar