Siapapun yang terpilih di DKI Jakarta hari ini, tidak ada kaitannya dengan emansipasi dan pembebasan kaum "mustadl'afin" di Jakarta.
![]() |
| Fayakhun Bakamla dan Kekalahan Ahok |
Ia semata kisah tentang pembagian kekuasaan dan modal, alokasi dan re-alokasi sumber daya ekonomi, "bargaining" modal sosial dan akumulasinya menuju RI 1, pendeknya, konsolidasi kelas borjuis pada situasi krisis kapitalisme di dalam negeri dan global.
Selama belum ada calon independen dari serikat buruh, misalnya, atau kaum miskin kota, berharap akan terjadinya perubahan besar pada tata-kota di Jakarta butuh waktu sekian lama lagi. Walaupun percik-percik ke arah "revolusi urban" itu mulai terlihat (penolakan reklamasi dan penggusuran, dst.).
Namun, Jakarta akan menjadi contoh bagi daerah-daerah lain ke depan. Contoh yang berwajah ganda: bagi kelas borjuis, bagaimana memanfaatkan agama untuk mengakumulasi modal sosial dan eko-pol; bagi kaum "mustadl'afin" di daerah lain, bagaimana berorganisasi dan bersuara terkait isu-isu agraria (reklamasi, dll) dan menjalin kepedulian lintas-golongan dan kelas.
Fayakhun Bakamla dan Kekalahan Ahok
Jakarta adalah pelajaran berharga, walau dalam sisinya yang terburuk. Selama gubernur Jakarta yang terpilih belum menggusur hotel bintang lima demi perumahan rakyat, selama itu kebijakannya akan memihak yang bermodal, meski mendapat dukungan luas dari massa fanatiknya.
Lengsernya Ahok dapat membawa efek domino runtuhnya rangkaian politisi PDI-P di luar Jakarta yang mulai memburuk namanya di hadapan rakyat -- karena korupsi atau pembelaan mereka kepada korporasi daripada rakyatnya sendiri. Seperti Ganjar di Jawa Tengah, dengan pembelaannya terhadap Semen.
Pelajaran pahit agar tak gampang mengibul di balik jargon nasionalisme atau Marhaenisme.
Tapi, bukankah kita masih hanya berpindah dari satu oligarki ke oligarki lain? Karena Gerindra terbukti turut mendukung Semen di Rembang.
hidup fayakhun bakamla

Tidak ada komentar:
Posting Komentar